Header Ads

Breaking News
recent

Festival Bukit Biru Ngapeh Bunyi dalam Satu Ruang

Pertunjukan Seni BINTEK Ngapeh Bunyi Dalam Satu Ruang
SEKELEBAT mirip keriuhan malam tujuh belasan di kampung-kampung. Berukuran kira-kira enam kali empat meter, di latar depan lereng bukit, tegak panggung berangka bambu. Di sisi belakang dan kanannya terentang anyaman daun kelapa, membentuk pagar. Beberapa boneka dari jerami terpajang di susunan batang buluh yang memunggungi tegalan kebun sayur dan lereng bukit menghitam.
Di depannya terhampar tanah selebar sepuluhan meter, memanjang dua puluhan meter hingga ke bibir jalan aspal, dengan tancapan obor-obor setinggi dua meteran di sepanjang tepinya. Tebaran jerami di atasnya tampak diniatkan sebagai “sofa” tempat para penonton bersimpuh. Ditambah talas, dan kebatan-kebatan ilalang di depan panggung, suasana ndesopun hadir.

Instrumen musik, peranti pengeras suara, sorotan lampu, lalu-lalang orang-orang berkostum khas, lalu kerumunan orang-orang di beberapa titik di sekitarnya tegas menandakan, sedang ada keramaian di sini. Di sini, di Dusun Taman Arum, Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), 30 Juli malam lalu, 19 hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-71.

“Kegiatan ini sepenuhnya dikelola warga RT 09, Dusun Taman Arum,” kata Triandi Yuniarso, pemusik yang ambil bagian “sekadar” sebagai peletup ide. Hujan yang turun hampir sepanjang acara tak menyurutkan warga untuk tetap meriung di sekitar panggung. Mereka menonton sambil berteduh di bawah pohon, tenda warung-warung, atau teras-teras rumah.

Digelar sebagai Festival Bukit Biru bertajuk Ngapeh Bunyi Dalam Satu Ruang, di panggung bambu, di samping gerbang menuju puncak Bukit Biru, itu tampil kreasi seniman-seniman Tenggarong, Samarinda, Handil, dan Penajam Paser Utara (PPU). Ujudnya, berbagai bentuk seni pertunjukan. Dari tari kontemporer, musik etnik-akustik, sastra, dongeng, sampai monolog. Juga demo pencak silat.

Dusun Taman Arum adalah belahan Desa Sumber Sari yang baru terbentuk lima tahun silam. Ini desa pecahan Desa Loh Sumber di Kecamatan Loa Kulu. Penduduknya belum sampai enam ribu jiwa (434 kepala keluarga). Dari Jalan Pesut di Tenggarong, jarak panggung Festival Bukit Biru itu hanya empat kilometer. Relatif dekat. Apalagi dengan jalan penghubung yang sudah beraspal dan berbeton. Minimnya penerangan malam hari saja yang membuatnya sunyi. Tapi, rupanya, kesunyian inilah, plus kesunyian di desa-desa lain, yang membuatnya masuk bidikan Jaringan Kampung (Japung) Nusantara.

Japung Nusantara dideklarasikan seniman Indonesia dan luar negeri pada Festival Kampung Temenggungan Banyuwangi, Jawa Timur, 17 Januari 2016, dan segera menggurita ke mana-mana. Sampai saat ini sedikitnya sudah tercakup festival-festival kampung di Cempluk dan Pecinan Malang, Jati 7 Jawa Barat, Lima Gunung Jawa Tengah, Rengel Tuban, Temenggungan, serta Karawang Art Village dan Kampung Celaket. Dari Kaltim turut serta Kukar dan Paser.

Japung Nusantara praktis adalah gerakan yang menepis batas-batas geografik dan politik. Selain dari Indonesia, seniman yang ambil bagian dalam deklarasi di Banyuwangi itu datang dari Prancis (gitaris Gilles Saisi), Cyprus (basisMarios Menelaou), Inggris (pemain light clarinet Isi Wolf), Republik Ceko (penari Sarka Bartuskova), serta Lithuania (fire dancer Matilda Minibrook, dan pemain biola Lucas Paltanavicius).

Jaringan ini, menurut Triandi, memang berbasis seniman, selain sumber daya di kampung-kampung. Ikatan di antara mereka terbentuk oleh kesamaan hasrat mempertahankan budaya lokal. “Pertunjukan seni mestinya juga melibatkan di masyarakat kampung, warga di desa-desa. Tidak lagi eksklusif di gedung-gedung pertunjukan dan kampus-kampus,” katanya.

Festival kampung dalam pandangan Japung Nusantara sepakat mengangkat potensi budaya lokal warga kampung, tak terkecuali lewat kolaborasi kesenian lokal dengan seni daerah lain di Indonesia dan mancanegara. Deklarasi di Banyuwangi tempo hari menegaskan komitmen untuk saling dukung di antara sesama penggagas berbagai kampung Nusantara.

Sejauh ini, Japung Nusantara sudah dilibati aktivis berbagai latar belakang, dari seniman, budayawan, sejarawan, fotografer, sineas, jurnalis, dalang, petani, dosen, geologis, pelukis, sastrawan, dan macam-macam kalangan profesi lain yang berkomitmen memajukan kampung di seluruh Nusantara.

“Orang-orang dalam Japung Nusantara berpacu membuat event-event di kampung berbasis kekuatan swadaya masyarakat,” kata Triandi. Di Kaltim, Festival Bukit Biru di Dusun Taman Arum tadi sekaligus membuka Festival Kampung Tani Etam di tempat yang sama, 28-30 September mendatang, mengusung tema kultur dan agrikultur. Mei lalu festival kampung digelar di Handil, Muara Jawa, Kukar.

Sejatinya, aneka suguhan di panggung festival kampung seperti yang berlangsung di Dusun Taman Arum itu adalah momen yang selalu diikuti diskusi pusparagam problem khas kampung. Lalu, berujung pada semacam penyadaran, bahwa kampung tidaklah berada pada posisi marginal untuk terus dinomorduakan.

“Kampung adalah lumbung ide, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan budaya. Kampung adalah ladang persemaian etos kesetiakawanan sosial,” kata Triandi. Mengamankan kampung dari pengaruh-pengaruh yang melunturkan keaslian watak dan kemampuannya, karena itu, juga bermakna mengamankan negeri. Festival kampung, oleh sebab itu, bukanlah festival biasa.

Sumber : kaltim.prokal.co

No comments:

Powered by Blogger.